Soal Hormati LAMJ, Romi Pertanyakan Sikap ARB Tidak Hadiri Panggilan LAMJ Tebo

waktu baca 2 menit
Jumat, 27 Sep 2024 13:49 1187 JambiOtoritas
Tokoh pemuda Muara Tebo, Romy Faisal/foto JOS

JambiOtoritas.com, TEBO – Ketidakhadiran anak negeri ARB untuk memberikan klarifikasinya dihadapan Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi Bumi Seentak Galah Serengkuh Gayung, kabupaten Tebo menimbukan persepsi berbeda bagi tokoh pemuda di Muara Tebo. Ketidakhadirannya bisa dianggap menurunkan wibawa lembaga adat di mata masyarakat.

Seperti diungkapkan seorang tokoh pemuda setempat, Romy Faisal. Menurut Romy mengatakan ketidakhadiran ARB dalam tiga kali pemanggilan tersebut bisa dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap eksistensi LAMJ kabupaten Tebo. LAM merupakan lembaga yang sangat dihormati oleh masyarakat Melayu di Kabupaten Tebo.

“Dengan mangkirnya ARB dari panggilan LAM, ini menunjukkan sikap yang kurang menghargai lembaga adat yang menjadi tempat berhimpunnya nilai-nilai budaya dan adat istiadat Melayu,” ucap Romy, Jum’at (27/9/2024).

Dikatakan dia, jika LAMJ Bumi Seentak Galah Serengkuh Gayung memiliki peran penting sebagai penjaga dan pelestari adat serta budaya Melayu di Kabupaten Tebo. Lembaga ini juga berfungsi sebagai wadah yang menjadi tempat berhimpunnya masyarakat adat dalam rangka menjalankan berbagai tradisi dan adat istiadat.

Dalam konteks pemerintahan lokal, LAM sering kali diibaratkan sebagai ‘pemerintahan’ bagi masyarakat adat, yang perannya sangat vital dalam menjaga keharmonisan sosial dan budaya di wilayah tersebut.

Pemanggilan ARB oleh LAM tidak hanya sekadar untuk mendapatkan klarifikasi, tetapi juga sebagai upaya menjaga marwah dan kehormatan adat Melayu. Video pernyataan ARB yang menyebut Wakil Bupati sebagai ‘ awak karo sikil’ dianggap oleh banyak pihak sebagai ucapan tidak pantas dan menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

Oleh sebab itu, menurut Romy, langkah LAM yang telah memanggil ARB guna memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai pernyataannya tersebut, sudah benar. Namun, dengan tidak hadirnya ARB pada pemanggilan itu, bisa menurunkan wibawa lembaga adat di mata masyarakat.

“LAM bukan hanya sekadar lembaga, tetapi adalah simbol kehormatan dan kedaulatan adat Melayu di Tebo. Jika seorang calon bupati saja tidak menghargai lembaga adat ini, bagaimana nanti jika ia menjadi pemimpin,” tegas Romy.

Untuk itu, Romy mempertanyakan keseriusan ARB dalam menghormati adat dan budaya setempat, mengingat bahwa menjadi pemimpin di Kabupaten Tebo berarti juga harus mampu menjaga nilai-nilai adat yang ada di daerah tersebut. “Pemimpin harus mampu menjadi teladan dalam menghormati adat, karena adat adalah jiwa dari masyarakat Melayu,” ucap Romy. (JOS)

Editor : David Asmara

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA