Proyek Rekonstruksi dan Tanggul Sungai BPBD Tebo Bikin ‘Sesak Nafas’, Progres Lamban

waktu baca 3 menit
Selasa, 16 Sep 2025 21:24 949 JambiOtoritas
Kondisi pekerjaan proyek tanggul sungai batanghari di desa Pagar Puding kecamatan Tebo ulu/foto JOS

JambiOtoritas.com, TEBO – Proyek pembangunan rekonstruksi jalan dan tanggul penahan tebing di desa Pagar Puding Kecamatan Tebo Ulu Kabupaten Tebo dilapokan warga disana. Masyarakat mengeluhkan lambannya progres dan dampak lingkungan terhadap aktivitas pekerjaan proyek yang dibiayai dari anggaran pemerintah pusat melalui dana hibah badan nasional penanggulangan bencana (BNPB) senilai Rp20,4 milyar tahun anggaran 2024 itu.

Dalam sepucuk surat pengaduan sedikitnya sepuluh orang perwakilan masyarakat desa Pagar Puding, menyampaikan sejumlah keluhan dan ke khawatiran kegagalan pembangunan tersebut. Karena diketahui rekam jejak perusahaan yang sudah bermasalah. Bahkan masuk sebagai perusahaan dalam daftar hitam (black list).

Bahwa dalam surat tersebut ada 4 point permintaan masyarakat yang harus ditindaklanjuti BPBD Tebo, adalah ;

1. Kekhawatiran masyarakat terhadap pelaksanaan turap yang sedang proses pengerjaan.
2. Lambatnya progres pekerjaan sehingga masyarakat khawatir gagal tidak terselesaikan.
3.Dampak lalulintas material yang menyebabkan hancurnya jalan umum desa agar menjadi perhatian pemerintah.
4.Fakta dilapangan besi seetfile yang semestinya masih bisa nancap ke tanah dipotong-potong, warga khawatir turap tidak sesuai spek dan RAB kerja.

Terpisah Kepala BPBD kabupaten Tebo, melalui Sekretarisnya, Ahmad Roni, menyatakan sudah mendapat informasi terhadap keluhan warga desa Pagar Puding itu. Menanggapi salah satu keluhan yang disampaikan adalah masalah teknis pekerjaan konstruksi.

” soal besi seetfile itu ada namanya Kalendering atau pukulan hammer ketika dipukul 10 kali paling maksimal masuk 10 CM sudah masuk ke tanah keras. Ketika masuk ke tanah keras, dipaksa terus seetfile akan lari (bergeser), jika besi tersisa akan dipotong mungkin itu yang di pertanyakan oleh masyarakat. Takutnya tidak kuat, secara teknis saya sudah koordinasi dengan konsultan, potongan besi yang ditumpuk untuk barang bukti,” jelas Roni saat dihubungi via telepon selulernya, Selasa (16/9/2025).

Selain itu, kekhawatiran masyarakat soal mobilisasi material proyek yang melintasi jalan desa itu. Dia beralasan, kalau dibilang rusak berat belum sejauh itu. Namanya benda berat tentu ada perubahan dengan kondisi jalan sebelumnya.

“Saya sudah koordinasi sama pelaksana secara taktis jalan yang dilewati nanti akan di tangani. Sebelum pekerjaan di mulai, ada sosialisasi ke masyarakat di lakukan oleh pihak kepala desa,” ujarnya.

Dikatakannya, lambatnya progres pengerjaan turap bukan cuma masyarakat saja sesak nafas melihatnya. BPBD sudah berulang kali rapat koordinasi dengan pejabat pelaksana teknis (PPTK), tim teknis, konsultan, untuk mempercepat pelaksanaan pekerjaan dilapangan.

” Tapi sampai saat ini belum ada upaya rekanan yang maksimal, progresnya ada, tadi saya sudah rapat terkait itu, di sampaikan, kami sudah dapat surat dari BMKG, sekarang sudah masuk musim hujan meski intensitasnya menengah. Warning sudah disampaikan, kita ini kerja di Sungai Batanghari dan Batanghari bukan punya Jambi saja karena hulu sungainya dari Sumatera Barat, kalau hujan efeknya ke kita juga, kami setuju kekhawatiran warga mengingatkan,” kata dia.

Proses pengerjaan turap dari sisi realisasinya, memang disiapkan 2 crane dilokasi pekerjaan. Sayangnya, crane yang kedua sudah 15 hari kerjanya belum maksimal. BPBD, kata dia, menyambut baik kalau teman – teman di DPRD Tebo meninjau langsung ke lokasi. (JOS)

Editor : David Asmara

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA