Vonis Majelis PN Tebo Kasus Perkosaan Anak di Bawah Umur Ciderai Rasa Keadilan

waktu baca 2 menit
Selasa, 12 Des 2023 14:33 0 394 jambiotoritas

JambiOtoritas.com, TEBO – Pasca majelis hakim di Pengadilan Negeri (PN) Tebo menjatuhkan vonis tiga bulan penjara terhadap terdakwa Budi (SAD) dalam perkara kasus asusila anak di bawah umur yang berusia 13 tahun. Pakar hukum pidana Univeritas Jambi, Dr. Sahuri Lasmadi, S.H., M.Hum, menilai banyak kejanggalan dalam sidang putusan yang digelar pada hari ini, Senin (11/12/2023) di PN Tebo itu.

Dengan vonis hakim 3 bulan penjara dan denda Rp10 juta juga dinilai janggal dan sangat rendah. Menurutnya, pelaku asusila anak di bawa umur dengan pelaku orang dewasa harus dihukum dengan ancaman hukuman minimal. Sementara jaksa penuntut umum menuntut terdakwa dengan hukuman 7 tahun penjara.

Ketidakhadiran terdakwa pada sidang putusan ini juga mengangkangi kesepakatan. Agar terdakwa hadir dalam sidang putusan. Di mana sebelumnya, terdakwa yang telah ditahan di Lapas Tebo ditangguhkan karena memenuhi tuntutan aski kelompok SAD.

“Kalau perkara umum, terdakwa wajib hadir sesuai KUHAP. Ini kok banyak sekali yang dilanggar hakim,” katanya.

Sahuri menyatakan hakim tidak boleh takut dengan aksi massa dalam memutuskan perkara. Harusnya sidang putusan tersebut harusnya ditunda karena terdakwa tidak hadir.

Sahuri menjelaskan dalam memutuskan perkara, dasar hukum hakim memvonis telah diatur di dalam pasal 197 ayat 1 huruf d KUHAP.

“Disana dinyatakan, hakim untuk menyatakan bersalah harus mempertimbangkan keadaan dan fakta persidangan,” katanya.

Pertimbangan keadaan dan fakta persidangan ini meliputi dakwaan jaksa, keterangan saksi, keterangan ahli (kalau ada), petunjuk, pembelaan pengacara (kalau ada), keterangan terdakwa dan keterangan korban.

“Lalu kita lihat, dipertimbangkan enggak. Kalau umpama saksi mengatakan bahwa fakta ada yang berbuat, pelaku dan korban ada dan dijatuhkan hukuman 3 bulan itu tidak benar,” katanya.

Ia menyebutkan jika memang perbuatan tersebut terbukti dan hukuman ringan diluar minimal hukuman, hakim jelas-jelas menyimpang dari aturan.

Menurutnya, putusan hakim tersebut wajar memberikan sakit hati bagi masyarakat karena jauh dari rasa keadilan.

“Kalau memang begitu, hukum jadi tidak berwibawa. Seharusnya negara tidak boleh kalah dan semua sama di mata hukum. Mestinya kembali ke norma, tidak hanya pertimbangan sosiologis tapi harus mengikuti pertimbangan yuridis,” ujarnya.

Sebelumnya jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Tebo menuntut terdakwa dengan hukuman 7 tahun penjara.

Atas putusan hakim tersebut, Hari selaku JPU mengatakan pihaknya masih pikir-pikir untuk melakukan banding.

“Terhadap putusan itu, kami akan diskusikan dan sementara ini pikir-pikir karena ada kekhususan dengan terdakwa ini adalah Suku Anak Dalam,” pungkasnya.(JOS)

Penulis : David Asmara

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA