
JambiOtoritas.com, TEBO – Fakta pahit dunia pendidikan di Kabupaten Tebo terungkap. Sebanyak 831 anak tercatat sebagai Anak Tidak Sekolah (ATS) pada tahun ajaran 2025/2026. Data ini bukan klaim, melainkan data valid dari Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tebo.
Jumlah itu bukan angka kecil. Ratusan anak di Tebo kehilangan hak dasarnya untuk belajar. Berdasarkan rincian Admin Dapodik Dikbud Tebo, Dadang, sebaran ATS didominasi jenjang menengah:
– SD Sederajat: 345 anak
– SMP Sederajat: 478 anak
– SMA Sederajat: 12 anak
Lonjakan terbesar terjadi di jenjang SMP. Hampir 60 persen anak tidak sekolah berada di usia wajib belajar 12-15 tahun. Ini alarm keras bagi Pemkab Tebo.
Ketimpangan gender juga mencolok. 581 anak laki-laki tercatat tidak sekolah, berbanding 254 anak perempuan. Lebih dari dua kali lipat.
Ironisnya, di balik angka 831 jiwa itu, Dikbud Tebo mengakui kelemahannya sendiri. Pendataan komprehensif ATS baru dimulai tahun lalu. Tidak ada data pembanding, tidak ada tren yang bisa dievaluasi. Bahkan, aplikasi pendataan pun belum mampu menjawab pertanyaan paling mendasar: Kenapa mereka putus sekolah?
Alasan putus sekolah – apakah karena ekonomi, pernikahan dini, harus bekerja, atau akses sekolah yang jauh – hingga hari ini tidak terdata.
Pemkab Tebo berdalih terus melakukan validasi agar program tepat sasaran. Namun validasi tanpa mengetahui akar masalah hanya akan menjadi rutinitas tahunan. 831 anak butuh intervensi nyata, bukan sekadar didata. Tugas negara belum selesai di ruang kelas.(JOS)
Editor : David Asmara